Langsung ke konten utama

Terima kasih atas Telepon Anda

Pada sebuah mata acara interaktif di Metro TV, di mana pemirsa menelepon ke Metro TV dan memberikan pendapat terhadap berita yang dia pilih. Setiap kali selesai pemirsa mengakhiri pembicaraannya, sang pembawa acaranya mengatakan, "Baik Pak, terima kasih atas telepon Anda."

Kalimat pembawa acara Metro TV "terima kasih atas telepon Anda" sedikit menggelitik saya. Bukankah dia hanya menelepon tanpa menyerahkan teleponnya?


Ketidaktepatan penggunaan kalimat di atas persis sama dengan apa yang disampaikan di rubrik bahasa di harian Kompas beberapa waktu lalu. Ketika merespons pembicaraan di telepon kita sering mengatakan, "Ini dari mana?" alih-alih "Ini dari siapa?" Dikatakan, ketika ditanyakan "ini dari mana?" maka kita akan menjawab dengan menyebutkan tempat di mana kita melakukan pembicaraan.

Demikian juga dengan "terima kasih atas telepon Anda". Pembawa acara Metro TV sebenarnya bisa dengan cermat menggunakan kalimat "terima kasih atas pendapat Anda" atau "terima kasih Anda telah menelepon Metro TV".

Postingan populer dari blog ini

Pergantian atau Penggantian?

Apakah Anda termasuk salah seorang yang bingung dalam penggunaan kata ‘pergantian’ dan ‘penggantian’? Jangan sedih sebab Anda tidak sendiri. Masih banyak orang yang bingung memilih ‘pergantian’ atau ‘penggantian’. Saya juga termasuk dalam daftar orang yang bingung itu. Akan tetapi, itu saya alami dulu, sekarang sudah tidak bingung lagi. Bagaimana caranya agar kita tidak bingung dalam memakai kedua kata ini? Sepintas memang tidak ada perbedaan antara keduanya sehingga orang beranggapan kita manasuka dalam pemakaiannya. Anggapan itu agaknya salah. Kedua kata itu membawa maknanya masing-masing ketika berada di dalam kalimat. Perhatikan contoh ini, ‘penggantian’ kepala desa berlangsung ricuh . Hal yang perlu kita lakukan adalah melihat verba kata itu, yakni ‘mengganti’ atau ‘berganti’. Kita bisa mengetahui hal ini dengan membaca konteks berita atau peristiwa dengan mencari tahu alasan di balik lengsernya kepala desa tersebut. Bila sang kepala desa digantikan karena sesuatu masalah, padahal...

“Perajin” atau “Pengrajin”

Setelah kata Pergantian dan Penggantian yang membuat kita bingung, kita juga dibingungkan mana yang benar, 'perajin' atau 'pengrajin, 'perusak' atau 'pengrusak'? Pemakaian kata ini sangat bersaing di masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa sublema pengrajin yang diturunkan dari lema rajin bermakna perajin n 1 orang yg bersifat rajin: para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2 sesuatu yg mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sbg ~ pegawai; 3 orang yg pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan; Dari cara Pusat Bahasa menuliskan makna pengrajin yang sama artinya dengan perajin itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bentuk pengrajin sah-sah saja dipakai alih-alih perajin . Hal ini semakin membuat kita bingung dan timbul pertanyaan mengapa KBBI tidak tegas menentukan kata yang benar? Salah satu karakter KBBI adalah merekam semua kata yang ada dan ...

Bersyukur

Dalam kehidupan sehari-hari, kata 'bersyukur' senantiasa kita dengar diungkapkan oleh orang-orang yang sedang dalam kondisi seyogianya bersyukur. Dia bersyukur karena anaknya lulus perguruan tinggi; Mereka bersyukur karena Tuhan membebaskan mereka dari kematian akibat gempa dahsyat yang meluluhlantakkan daerah mereka. Hal ini tepat untuk melukiskan ungkapan bahwa apa pun keadaanmu, baik dukacita maupun sukacita, bersyukurlah. Bagaimana kita bisa bersyukur dalam kondisi berdukacita. Itulah yang banyak 'dikeluhkan' orang-orang, termasuk saya. Saya besar di lingkungan keluarga miskin dan sangat sederhana. Dan, ayah dan ibu saya selalu menekankan akan hal ini. Ketika hanya makan malam seadanya, Ibu saya selalu menekankan, kita syukuri saja dulu yang ada, kita sudah sering juga makan yang enak, masak makan yang kurang enak tidak mau. Begitu seringnya mendengar kata itu, hingga sekarang saya juga ikut-ikutan meneruskannya kepada anak-anak saya. Waktu itu, saya sampai berpikir...