29 September 2012

Tes

Apa kabar Indonesia

17 Oktober 2010

“Perajin” atau “Pengrajin”

Setelah kata Pergantian dan Penggantian yang membuat kita bingung, kita juga dibingungkan mana yang benar, 'perajin' atau 'pengrajin, 'perusak' atau 'pengrusak'? Pemakaian kata ini sangat bersaing di masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa sublema pengrajin yang diturunkan dari lema rajin bermakna perajin n 1 orang yg bersifat rajin: para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2 sesuatu yg mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sbg ~ pegawai; 3 orang yg pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan;

Dari cara Pusat Bahasa menuliskan makna pengrajin yang sama artinya dengan perajin itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bentuk pengrajin sah-sah saja dipakai alih-alih perajin. Hal ini semakin membuat kita bingung dan timbul pertanyaan mengapa KBBI tidak tegas menentukan kata yang benar?

Salah satu karakter KBBI adalah merekam semua kata yang ada dan dipakai di masyarakat. Kata pengrajin diketahui banyak dipakai lalu kata itu memiliki hak menjadi warga kata penghuni KBBI. Hingga tulisan ini saya tayangkan di sini, kata pengrajin ditemukan di mesin pencari Google sebanyak 1.620.000 berbanding 209.000 untuk kata perajin. Pemakaian kata ini sangat bersaing. Mungkin saja ini menjadi alasan penyusun KBBI memasukkan kata 'pengrajin ' sebagai sama dengan 'perajin'.

Dari karakter KBBI seperti itu, kata-kata yang direkam belum tentu benar atau salah. Sejatinya, Pusat Bahasa perlu secara tegas memberikan pencerahan kepada pengguna KBBI untuk bentuk-bentuk bersaing seperti itu. Seperti halnya untuk kata silahkan yang memakai tanda panah merujuk pada kata silakan karena kata dasarnya sila.

Ada beberapa cara bagi kita menentukan bentuk yang benar. Pertama, melihat kelaziman. Umumnya, awalan /pe-/ atau /per-/ yang melekat pada kata berfonem awal /r/ tidak berubah menjadi /peng-/, misalnya: pe + raih peraih; pe + rampok perampok; pe + ramu perenang; pe + rias perias; pe + rintis perintis; pe + rusak perusak.

Dari contoh di atas bisa kita lihat bahwa bentuk pengraih, pengrampok, pengramu, pengrenang, pengrias, pengrintis ataupun pengrusak adalah bentuk yang salah.

Kedua, melihat proses terbentuknya kata tersebut. Kita ambil contoh kata dasar ‘tulis’ yang menurunkan bentuk ‘menulis’, ‘penulis’, ‘penulisan’, ‘tulisan’. Demikian juga dengan contoh berikut ini:

  • raih meraih peraih peraihan raihan
  • rampok merampok perampok perampokan rampokan
  • ramu meramu peramu peramuan ramuan
  • rusak merusak perusak perusakan — (tidak ada bentuk rusakan)

Sekarang kita bisa melihat bahwa bentuk pengraihan, pengrampokan, pengramuan atau pengrusakan tidak kita temukan. Tentu saja, analogi di atas bisa kita coba pada kata ‘rajin’: ‘rajin’ ‘merajinkan’ ‘kerajinan’ ‘perajin’.

Mari kita bandingkan dengan contoh berikut.
  • gali menggali penggali penggalian galian
  • ganti mengganti pengganti penggantian gantian
  • ganti berganti pergantian (baca: juga Pergantian atau Penggatian
Setelah membaca uraian singkat ini, semoga kita bisa bersikap untuk tidak lagi menggunakan pengrajin alih-alih perajin.

1 Oktober 2010

Pergantian atau Penggantian?

Apakah Anda termasuk salah seorang yang bingung dalam penggunaan kata ‘pergantian’ dan ‘penggantian’? Jangan sedih sebab Anda tidak sendiri. Masih banyak orang yang bingung memilih ‘pergantian’ atau ‘penggantian’. Saya juga termasuk dalam daftar orang yang bingung itu. Akan tetapi, itu saya alami dulu, sekarang sudah tidak bingung lagi. Bagaimana caranya agar kita tidak bingung dalam memakai kedua kata ini?

Sepintas memang tidak ada perbedaan antara keduanya sehingga orang beranggapan kita manasuka dalam pemakaiannya. Anggapan itu agaknya salah. Kedua kata itu membawa maknanya masing-masing ketika berada di dalam kalimat. Perhatikan contoh ini, ‘penggantian’ kepala desa berlangsung ricuh. Hal yang perlu kita lakukan adalah melihat verba kata itu, yakni ‘mengganti’ atau ‘berganti’. Kita bisa mengetahui hal ini dengan membaca konteks berita atau peristiwa dengan mencari tahu alasan di balik lengsernya kepala desa tersebut.

Bila sang kepala desa digantikan karena sesuatu masalah, padahal masa jabatannya masih tersisa dua tahun lagi, verba yang pas adalah ‘mengganti’. Bupati atau wali kota atas usulan sekretaris kecamatan ‘mengganti’ kepala desa yang bermasalah. Bila seperti itu, proses mengganti kepala desa itu disebut ‘penggantian’.

Lain halnya lagi bila ternyata kepala desa yang dimaksud memang sudah habis masa jabatannya. Sudah saatnya kepala desa itu harus diganti, harus ada kepala desa yang baru. Bila seperti itu, peralihan dari kepala desa lama ke kepala desa baru disebut ‘pergantian’. Kata ‘penggantian’ tidak pas dalam konteks ini karena memang tidak ada yang ‘mengganti’ tetapi ‘berganti’.

Dari contoh di atas, secara simpel bisa kita simpulkan bahwa ‘penggantian’ melekat pada verba ‘mengganti’, sedangkan ‘pergantian’ berpasangan dengan verba ‘berganti’. Kita tinggal menyelidiki fakta pada berita atau peristiwa yang sedang kita baca atau edit.

Bila demikian, coba pikirkan seandainya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan resuffle kabinetnya tahun 2010 atau awal 2011, mana yang cocok ‘pergantian’ ataukah ‘penggantian’?

29 September 2010

Inilah Kekeliruan dalam Berbahasa Indonesia (3)

Pedestrian

Kata ini sering sekali menjadi perbincangan para pengguna bahasa Indonesia. Hal ini karena kata pedestrian sering dipakai secara keliru. Masyarakat taunya pedestrian itu bahu jalan untuk pejalan kaki, padahal arti sebenarnya adalah 'pejalan kaki'.

Bila saja kita mau sedikit berusaha membuka kamus bahasa Indonesia, kesalahan seperti di bawah ini tidak akan terjadi.

Pembangunan pedestrian di Surabaya kini mulai banyak yang rusak. Kerusakan ini lantaran tidak seluruhnya berkualitas baik dan sesuai dengan kontrak kerjanya dengan pemkot. (Selengkapnya di sini)

Bangunan pedestrian di sejumlah jalan di Kota Surabaya mulai banyak yang rusak akibat kurangnya perawatan dari pihak pemerintah setempat. (Selengkapnya di sini)

Jalur Lambat Jadi Pedestrian (Selengkapnya di sini)

Dari papan proyek yang berdiri di sekitar taman, diketahui jika proyek pedestrian ini melibatkan beberapa instansi pemerintah seperti, Departemen Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Pertamanan Kota dan Dinas Perindustrian dan Energi. (Selengkapnya di sini)

Contoh-contoh di atas saya ambil secara acak di internet. Dari contoh itu paling tidak menunjukkan betapa kita gamang dalam menggunakan kata pedestrian tersebut. Padahal, dengan menambahkan satu kata saja di depan kata 'pedestrian' itu, yakni kata 'jalur', maka arti yang dimaksudkan menjadi benar.

Tidak saja di media massa, kekeliruan pemakaian kata ini juga sudah merambah di masyarakat. Lihat saja penyebutan trotoar di Jalan Prof Dr Satrio, Jakarta Selatan, dengan Satrio Pedestrian, padahal seharusnya disebut Satrio Sidewalk (Trotoar Satrio). Agaknya 'pedestrian' dan 'sidewalk' dianggap sama. Inilah kekeliruannya.

24 September 2010

Terima kasih atas Telepon Anda

Pada sebuah mata acara interaktif di Metro TV, di mana pemirsa menelepon ke Metro TV dan memberikan pendapat terhadap berita yang dia pilih. Setiap kali selesai pemirsa mengakhiri pembicaraannya, sang pembawa acaranya mengatakan, "Baik Pak, terima kasih atas telepon Anda."

Kalimat pembawa acara Metro TV "terima kasih atas telepon Anda" sedikit menggelitik saya. Bukankah dia hanya menelepon tanpa menyerahkan teleponnya?


Ketidaktepatan penggunaan kalimat di atas persis sama dengan apa yang disampaikan di rubrik bahasa di harian Kompas beberapa waktu lalu. Ketika merespons pembicaraan di telepon kita sering mengatakan, "Ini dari mana?" alih-alih "Ini dari siapa?" Dikatakan, ketika ditanyakan "ini dari mana?" maka kita akan menjawab dengan menyebutkan tempat di mana kita melakukan pembicaraan.

Demikian juga dengan "terima kasih atas telepon Anda". Pembawa acara Metro TV sebenarnya bisa dengan cermat menggunakan kalimat "terima kasih atas pendapat Anda" atau "terima kasih Anda telah menelepon Metro TV".

Bersyukur

Dalam kehidupan sehari-hari, kata 'bersyukur' senantiasa kita dengar diungkapkan oleh orang-orang yang sedang dalam kondisi seyogianya bersyukur. Dia bersyukur karena anaknya lulus perguruan tinggi; Mereka bersyukur karena Tuhan membebaskan mereka dari kematian akibat gempa dahsyat yang meluluhlantakkan daerah mereka. Hal ini tepat untuk melukiskan ungkapan bahwa apa pun keadaanmu, baik dukacita maupun sukacita, bersyukurlah. Bagaimana kita bisa bersyukur dalam kondisi berdukacita. Itulah yang banyak 'dikeluhkan' orang-orang, termasuk saya.


Saya besar di lingkungan keluarga miskin dan sangat sederhana. Dan, ayah dan ibu saya selalu menekankan akan hal ini. Ketika hanya makan malam seadanya, Ibu saya selalu menekankan, kita syukuri saja dulu yang ada, kita sudah sering juga makan yang enak, masak makan yang kurang enak tidak mau. Begitu seringnya mendengar kata itu, hingga sekarang saya juga ikut-ikutan meneruskannya kepada anak-anak saya. Waktu itu, saya sampai berpikir, jangan-jangan orang yang bersyukur itu hanya orang yang miskin ya.... Orang yang sudah punya segala sesuatu, jangan-jangan tidak perlu bersyukur. Jujur, jawaban kegelisahan ini belum terjawab, mungkin karena saya belum pernah mengalami jadi orang kaya.

Ketika anak saya sudah memiliki permainan PlayStation 2, melihat temannya punya PS 3, ia merengek-rengek minta dibelikan juga, padahal saya belum memiliki uang untuk membelikan PS 3. Saat itu, saya serta-merta mengatakan kepada anak saya, bersyukurlah dulu sudah punya PS 2. PS 3 nanti dibelikan kalau kita sudah punya uang. Ucapan syukur ini mengajarkan anak saya pada sebuah kesabaran. Menahan diri sejenak saat keinginan tak terpenuhi.

Dari waktu ke waktu, saya menyadari bahwa hidup ini harus diisi dengan rasa syukur. Dengan rasa syukur, kita tidak terlalu gelisah menghadapi setiap kegagalan. Rasa syukur bisa mengisi celah kosong di dalam perasaan kita tatkala sesuatu yang tidak kita inginkan datang menerpa. Tinggal bagaimana caranya kita bisa memiliki rasa yang selalu bersyukur itu.

Yang saya pahami, seseorang telah memiliki rasa syukur tatkala ia tidak mengeluh ketika kegagalan atau dukacita datang dan tidak berbelebihan dalam meresponi suasana sukacita yang diterima. Ini bisa kita lakukan saat kita mengerti bahwa ada kekuasaan yang berperan dalam hidup kita. Kita tidak mengambil kendali dalam hidup kita, tetapi Dia, yang maha pencipta, yang berkuasa atas diri kita dan ada kesadaran bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita adalah seizin Dia. Bahkan, tak sehelai rambut pun terlepas dari kepala kita tanpa sepengetahuan Dia. Dengan demikian, hidup dan semua yang terjadi dalam hidup ini sudah pasti sepengetahuan Tuhan.

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.


Kalimat motivasi di atas menjadi kekuatanku dalam melewati hari-hari bersama keluarga, bahkan dalam melalui waktu-waktu enak dan tidak enak di pekerjaan.

Orang yang bersyukur adalah orang yang tidak memiliki rasa sakit hati dan keinginan memiliki saat orang lain beroleh rezeki atau sukacita. Anda bisa mengetes hati Anda saat ini. Ketika tetangga sebelah membeli barang yang cukup berharga, apakah istri Anda juga merengek dan minta dibelikan barang yang sama? Hmmm.... bila ya, maka keluarga Anda adalah keluarga yang kurang bersyukur. Ayah saya sering berkata, bila selimut Anda masih pendek, maka saat tidur tak perlu meluruskan kaki. Artinya, cukupkanlah dirimu dengan keadaan sekarang, jangan ngoyo. Percayalah, semuanya akan dibuat indah pada saatnya.

Orang yang bersyukur adalah orang yang senantiasa memiliki empati. Ketika orang lain membutuhkan bantuan kita, dan saat tangan kita terulur memberi, rasa syukur itu telah kita miliki. Memberi tidak selalu harus diwujudkan dengan barang atau materi. Memberikan kenyamanan, menyediakan telinga kita untuk mendengar, bersedia mendampingi di saat kita dibutuhkan adalah salah satu bentuk rasa syukur kita bahwa hidup ini tak semata memikirkan ego kita sendiri. Orang sekitar kita adalah obyek rasa syukur yang kita miliki.

Kelegaan dan sukacita yang merupakan buah dari bersyukur harus kita cari dan kita praktikkan mulai dari hal-hal yang paling kecil. Saya ingat kata-kata dalam Alkitab yang mengatakan "Hati yang gembira adalah obat, tapi semangat yang patah keringkan tulang." Ya, orang yang bersukacita adalah orang yang bersyukur. Saya bersyukur kalimat-kalimat ini bisa terangkai. Saya bersyukur bila tulisan ini terbaca oleh Anda sehingga kata 'bersyukur' kembali terlintas di pikiran Anda saat ini. Hendaklah kita mengucap syukur dalam segala hal.

19 September 2010

Bola di Twitter

Permainan sepak bola terutama liga Eropa telah menyihir banyak penggila bola di berbagai belahan dunia. Tidak mengherankan bila penggemar pun memiliki fanatisme terhadap klub yang dia senangi. Ada yang menggilai klub AC Milan dari Italia. Sampai-sampai foto profil akun facebook dan BlackBerry-nya pun senantiasa berbau AC Milan. Kalau tidak logo AC Milan, fotonya bersama Franco Baresi, mantan bek AC Milan, pun dipasang bergantian. Penggemar klub Manchester United, Inggris, juga terlihat tersenyum-senyum ceria ketika klub kesenangannya memasukkan gol ke gawang lawan. Semua "mati-matian" membela klub kesenangan mereka. Itu bisa diluapkan dengan beberbagai bentuk termasuk bertukar informasi via Twitter.

Jejaring sosial Twitter begitu digandrungi oleh semua orang akhir-akhir ini. Dari orang biasa, karyawan, mahasiswa, aktivis, anggota parlemen, hingga para eksekutif bahkan mungkin saja para teroris juga memiliki akun di Twitter. Terutama di akhir minggu, ketika pertandingan bola dilaksanakan, timeline (semua pesan yang dikirimkan di halaman Twitter) obrolan soal bola selalu hangat disimak. Para penggemar bola bisa dengan segera melihat siapa saja pengikut (follower)-nya yang memiliki klub idola yang sama dengan mereka. Pramono Anung, Sekretaris DPP PDI-P yang juga Ketua DPR, terlihat bahwa dia pendukung setia "The Blues" Chelsea, Inggris.


Taufik Mihardja, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, begitu sumringah bertukar pesan dengan Pramono Anung soal Chelsea yang menang atas Blackpool, Minggu (20/9) malam.
Setiap kejadian yang menarik sepanjang pertandingan langsung dimutakhirkan di status para twitteran
. Di statusnya, sesaat sebelum kick-off Chelsea vs Blackpool, Taufik Mihardja menulis: "MU vs Liverpool berakhir 3-2! Sekarang nonton Chelsea vs Blackpool (5-0)". Beberapa detik kemudian, Chelsea bikin gol. Taufik Mihardja pun langsung memberikan info di Twitter: "Satu nol untuk Chelsea! 4 lagi deh!"
Twitteran lain pun langsung memberikan komentar dengan mengarahkan kepada para pengggemar Chelsea. Seorang twitteran menulis: @taufikhmihardja gol begitu cepat buat Si Biru, bakal banyak gol lagi nih...".

Di samping obrolan-obrolan seperti itu beberapa media pun secara cepat menyediakan informasi-informasi lewat Twitter. Misalnya Kompas.com secara cepat menginformasikan hasil dan kejadian-kejadian penting menyangkut pertandingan yang sedang berlangsung.

Laporan langsung
Para penggemar bola, yang oleh sesuatu hal tidak bisa menonton langsung tayangan pertandingan klub favoritnya, Twitter bisa menjadi solusinya. Beberapa akun Twitter menyediakan informasi gratis dengan memberi laporan secara langsung tentang jalannya pertandingan. Sebut saja misalnya bagi akun Twitter Fans Manchester United akan memberikan laporan langsung dari di Twitter kepada penggemar Manchester United.

Penggemar Barcelona, Spanyol, pun bisa menambahkan akun FCBarcelona pada daftar "following". Anda akan mendapatkan informasi tentang semua yang terjadi sepanjang pertandingan berlangsung. Informasi yang didapatkan sudah tentu dalam bahasa Inggris.

Twitter adalah sebuah fenomena. Kita bisa mendapatkan informasi dalam waktu yang cepat. Penggemar bola kini dimanjakan. Bila dulu merasa sangat kecewa bila pertandingan klub favoritnya tidak di tayangkan di televisi, sekarang tinggal buka Twitter, semua informasi ada di sana. Twitter menjadi semacam jembatan bagi penggunanya ke sumber berita.

Tidak saja informasi tentang bola. Soal kondisi lalu lintas pun Anda tak juga bisa dengan segera Anda ketahui lewat Twitter. Anda tinggal tanyakan kepada TMC Polda Metro Jaya atau Radio Eshinta tentang suasana lalu lintas dan kondisi cuaca suatu wilayah atau daerah yang ingin Anda lewati atau kunjungi.

Twitter semakin mengisi hidup kita. Sekarang sepertinya tiada hari tanpa buka Twitter. Kita tidak bisa memungkiri bahwa di samping banyaknya manfaat yang bisa kita petik, ada juga manfaat negatif. Misalnya, ibu-ibu yang doyan "ngetwitt" bisa jadi masakannya menjadi gosong; atau anaknya tidak terurus karena sibuk dengan Twitter.

Sekarang mari kita mewaspadai apa saja kekurangannya atau efek negatifnya, sembari kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya teknologi ini untuk membangun diri kita sendiri, kelompok kita, dan terutama bangsa ini yang mulai rapuh dalam memandang keberagaman.

18 September 2010

Inilah Kekeliruan dalam Berbahasa Indonesia (2)

Ribuan Massa?

Setiap ada demonstrasi yang melibatkan ribuan orang dan bila menjadi berita di media massa, maka bisa kita pastikan kata 'massa' akan muncul pada pemberitaan. Akan tetapi, sayang sekali media massa kita sering kesulitan dalam menggunakan kata 'massa' dalam kalimat. Kesulitan itu bisa kita lihat pada cuplikan kalimat judul berita yang saya ambil dari beberapa media massa:

1. Ribuan Massa Partai Keadilan Sejahtera Kecam Penindasan Israel, Tempointeraktif.com
2. Jakarta Besok Dibanjiri Demo Ribuan Massa, Inilah.Com
3. Ribuan Massa HTI Pawai Tolak Kedatangan Obama, Detik.com
4. Ultah Gerindra Dipadati Ribuan Massa, Kompas.com


Cobalah kita mengecek apa arti dari kata 'massa' di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Keempat:

mas.sa n 1 sejumlah besar benda (zat dsb) yang dikumpulkan (disatukan) menjadi satu (atau kesatuan): -- batu-batuan; 2 jumlah yg banyak sekali; sekumpulan orang yg banyak sekali (berkumpul di suatu tempat atau tersebar): -- membanjiri lapangan untuk melihat pertunjukan sirkus; 3 kelompok manusia yg bersatu krn dasar atau pegangan tertentu: organisasi --; 4. Fis ukuran kuantitatif sifat kelembaman (inersia) benda.


Dari makna nomor (2) disebutkan, massa adalah jumlah yang banyak sekali; sekumpulan orang yang banyak sekali. Cobalah perhatikan, ketika kata 'ribuan' mengikuti kata 'massa', maka 'ribuan massa' berarti ribuan kumpulan orang yang banyak sekali. Hmmm... fantastis. Seandainya saja untuk satu kumpulan terdiri atas 1.000 orang, maka 'ribuan massa' itu berjumlah 1.000.000 orang. Namun, yang perlu kita tahu apakah benar jumlah yang berdemo berkisar 1 juta orang? Dan, apakah benar 'massa' itu terpisah-pisah di beberapa tempat dan membentuk kelompok-kelompok? Saya rasa, tidak. Sang wartawan atau reporter mungkin sedang menyaksikan orang yang berdemo (massa) yang berjumlah ribuan orang.

Kekeliruan ini sama halnya ketika kita menulis 'banyak jalan-jalan yang rusak' yang seharusnya 'banyak jalan yang rusak'. Gejala bahasa ini sering disebut sebagai 'pleonasme' yakni pemakaian kata-kata yang lebih daripada yang dibutuhkan.Kata 'jalan-jalan' sudah bermakna lebih dari satu. Bandingkanlah dengan kalimat: 'akibat banyak jalan-jalan, uangnya habis'. Pada kalimat ini 'jalan-jalan' tidak bermakna jamak. Demikian juga pada kalimat 'banyak anak-anak yang menangis' tentu tidak digolongkan dalam pleonasme, karena 'anak-anak' pada kalimat itu tidak bermakna jamak, tetapi tunggal yakni orang yang masih kecil.

Untuk itu, media massa, termasuk kita semua pengguna bahasa Indonesia, mesti berhati-hati menggunakan kata 'massa'. Pada cuplikan kalimat judul di atas, kata 'ribuan' yang mengikuti 'massa' harus dihilangkan. Kalau mau menonjolkan jumlahnya, maka kalimatnya menjadi: Ribuan Simpatisan Partai Keadilan Sejahtera Kecam Penindasan Israel; Jakarta Besok Dibanjiri Demo Massa (Besok Massa Banjiri Jakarta); Ribuan Anggota HTI Pawai Tolak Kedatangan Obama; dan Ultah Gerindra Dihadiri Ribuan Orang. Jadi, waspadalah... waspadalah. :D

Bahasa di Instansi Pemerintah

Sebuah foto dimuat di laman jejaring sosial Facebook oleh sahabat saya Dahono Fitrianto dan mengundang banyak komentar dari pengunjung laman itu. Foto tersebut saya muat di halaman ini untuk Anda.

Perhatikanlah papan penunjuk pada foto yang diambil di sebuah rumah sakit di Kuningan, Jawa Barat, pada 12 September 2010 itu. Tertulis "Ruang Obserpasi". :D
Apakah Anda juga tersenyum membaca tulisan itu? Yah, tapi tidak bagi pemangku kepentingan rumah sakit itu. Buktinya, mereka dengan sadar memasang papan itu tanpa terganggu rasa bahasanya. Setidaknya hingga tanggal pengambilan foto itu.


Kata "obserpasi" yang seharusnya ditulis "observasi" adalah salah satu contoh bagaimana kita mengapresiasi bahasa kita sendiri. Bagaimana kita bisa menguasai bahasa orang lain, sedangkan memakai bahasa kita sendiri masih amburadul. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita memiliki nasionalisme, bahasa sendiri tidak bisa kita pakai dengan benar dalam berkomunikasi sehari-hari. Ironinya, kekeliruan berbahasa ini justru terjadi pada kantor-kantor pemerintah, yang seharusnya lebih memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat biasa karena langsung bersentuhan dengan urusan negara ini. Apa yang tertera di papan penunjuk itu barulah yang terlihat, bagaimana dengan yang tidak terlihat, seperti urusan administrasi lainnya?

Saya tak habis pikir mengapa instansi pemerintah itu menganggap sepele urusan penggunaan bahasa di lembaga mereka. Bukankah semua kebijakan, termasuk pemasangan papan penunjuk itu, harus sepengetahuan pengambil kebijakan di instansi itu? Ataukah memang pegawai dan jajaran pemimpin di lembaga itu tidak sempat mengecek kebenaran pemakaian kata "observasi" alih-alih "obserpasi"? Yang membuat saya miris lagi, tidakkah para dokter yang sudah pasti jago berbahasa merasa terganggu dengan kata "obserpasi" itu?



Saya mengusulkan kepada Pusat Bahasa untuk lebih menyosialkan penggunaan bahasa Indonesia terutama kepada instansi-instansi pemerintahan. Pusat Bahasa memiliki wewenang untuk memberikan "teguran", mulai dengan mengirimkan surat peringatan hingga teguran yang lebih keras, apalagi dengan sudah terbitnya undang-undang bahasa. Kalau Pusat Bahasa menutup mata dan tidak melakukan tindakan, kekeliruan-kekeliruan seperti ini akan terus kita saksikan.

17 September 2010

Inilah Kekeliruan dalam Berbahasa Indonesia (1)

Pengantar: Beberapa tulisan di blog ini akan saya sajikan berkaitan dengan kekeliruan dalam berbahasa Indonesia. Topik-topik yang tersaji adalah merupakan catatan yang saya kumpulkan sejauh ini berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari saya sebagai penyelaras bahasa di sebuah harian nasional. Bahasa Indonesia terus berkembang dan mengalami perubahan yang begitu cepat. Untuk itu, apa yang tersaji di sini tidak bisa saya klaim sebagai sebuah kebenaran mutlak, apalagi saya bukanlah ahli bahasa atau munsyi. Saya hanya buruh biasa yang mencari makan lewat belantara kata-kata dan kalimat-kalimat. Tulisan ini tak lebih dari sekadar berbagi dengan semua penggiat bahasa dan siapa pun, siapa tahu tulisan ini bermanfaat.

Donor


Sejak Muhammad Yusuf Kalla menjadi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) kata "donor" begitu gencar dipakai di masyarakat, termasuk di berbagai media massa. Hal ini tidak lepas dari gebrakan mantan Wakil Presiden itu yang terus mengampanyekan pentingnya semua masyarakat menyumbangkan darah. Jusuf Kalla bahkan melakukan terobosan-terobosan baru, yakni dengan menyediakan gerai-gerai di tempat-tempat umum, termasuk mal, untuk melayani masyarakat yang secara sukarela menyumbangkan darah buat kepentingan sesama yang membutuhkan transfusi darah.


Sekilas tak ada yang salah dengan kata donor ini. Toh, barangkali pemikiran para wartawan atau penulis saat menggunakan kata itu dalam kalimat berita, pesan yang disampaikan dimengerti oleh pembaca. Namun, sesungguhnya kata "donor" merupakan salah satu kata yang pemakaiannya sering keliru. Mari kita cek apa makna kata ini di dalam kamus.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tertulis: do·nor n 1 penderma; pemberi sumbangan; 2 penderma darah (yg menyumbangkan darahnya untuk menolong orang lain yg memerlukan): -- darah; 3 Fis unsur kimia yg jika ditambahkan ke dl semikonduktor murni dapat menambah konsentrasi elektron bebas di dl semikonduktor itu.


Kata 'donor' adalah nomina atau kata benda. Kekeliruan yang timbul adalah saat menyebut pekerjaan (bentuk verba) dari 'donor' tersebut. Pekerjaan menyumbangkan darah--yang dilakukan seseorang di mana petugas menyuntikkan jarum ke pembuluh nadi donor di salah satu tangan seseorang dan darah ditampung dalam sebuah kantong khusus hingga kantong itu penuh--sering disebut 'mendonorkan darah'. Inilah kekeliruannya. 'Mendonorkan darah' tentu memiliki makna "menjadikan darah sebagai donor', bukan? Sesuatu yang tidak masuk akal.

Kekeliruan seperti ini memang sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan. Ada sebagian orang mengatakan, kata itu sudah berterima di masyarakat. Sudahlah kita terima saja. Akan tetapi, pertanyaannya saya adalah kalau sudah jelas-jelas itu keliru dan kita bisa buktikan argumentasinya, begitu susahkah kita berubah dan kembali ke jalan yang benar? :D

Saya berharap, Jusuf Kalla dan jajarannya semestinya tau soal kekeliruan pemakain kata donor ini. Dengan demikian, saat mereka memberikan informasi atau keterangan kepada wartawan atau di depan umum, sudah tidak lagi menggunakan kata "mendonorkan darah". Para wartawan/reporter juga diharapkan memberikan perhatian setiap kali menggunakan kata ini dalam berita yang akan ditulis di medianya masing-masing.

Baiklah PMI dan media massa serta kita semua menggunakan kata "menyumbangkan darah" atau "mendermakan darah" alih-alih "mendonorkan darah" seperti yang selama ini kita gunakan. Seperti slogan Ketua PMI Jusuf Kalla saat menjadi calon presiden pada pemilu presiden beberapa waktu lalu, yakni "lebih cepat lebih bagus" dan dibuktikan dalam segala sepak terjangnya, maka demikian juga kita berharap beliau memberi perhatian lebih cepat pada pelurusan kekeliruan pemakaian kata 'donor' ini.

14 September 2010

Pemudik Meninggal

Ada rasa miris membaca angka statistik kecelakaan lalu lintas masa Lebaran dari tahun ke tahun. Kompas dan beberapa media melaporkan data itu kepada kita. Jumlah orang yang meninggal dunia selama Lebaran 2010 tercatat 453 orang. Data ini dipantau dari 3 September 2010 (H-7) hingga 12 September 2010 (H+1). Waow, hampir setengah juta orang meregang nyawa secara sia-sia.

Secara keseluruhan memang tahun 2010 angka kematian berkurang dibandingkan tahun 2009 (702 orang). Tetapi, dari jumlah kasus kecelakaan tahun 2010 (1.811 kasus) meningkat ketimbang tahun 2009 (1.646 kasus). Pertanyaan kita adalah bagaimana meminimalkan angka kematian tersebut pada Lebaran mendatang? Korban meninggal semestinya ditekan sesedikit mungkin. Bahkan, harapan (das sein)-nya, kalau bisa, setiap arus mudik dan arus balik berlangsung tanpa ada korban meninggal.


Membaca faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan sehingga menimbulkan kematian nyatanya tak jauh berubah dari tahun ke tahun, lebih banyak disebabkan faktor kelelahan pengendara, kerusakan kendaraan, dan kerusakan jalur transportasi.

Pemudik yang sangat riskan terhadap kecelakaan yang menyebabkan kematian adalah pengguna sepeda motor. Tempointeraktif.com menulis, pemudik berkendaraan roda dua tahun ini diperkirakan mencapai 3,6 juta orang. Suatu angka yang sangat fantastis.

Saya tak habis pikir kenekatan perantau di Jakarta pulang ke Jawa Tengah atau Jawa Timur dengan menggunakan sepeda motor. Menempuh jarak hampir 1.000 kilometer (Jakarta-Surabaya) tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Dibutuhkan kesegaran tubuh yang prima, kondisi motor yang yahud, dan kehati-hatian yang tinggi. Tidak itu saja. Saya juga hampir tak percaya bagaimana kenekatan pemudik memboncengkan keluarganya termasuk anak-anak yang masih kecil pulang ke kampung halaman dengan motor.

Salah satu alasan pemudik menggunakan sepeda motor adalah efesiensi. Baik waktu dan uang. Alasan ekonomi. Tetapi, apakah pemudik itu tidak memikirkan keselamatannya ya? Saya saja, ketika masih tinggal di Depok yang berjarak lebih kurang 40 kilometer dari tempat kerja saya di Jakarta, begitu waswas akan keselamatan saya.

Kelelahan yang mendera sepanjang perjalanan jauh sangat memengaruhi konsentrasi dalam berkendara. Memang dalam perjalanan tentu tidak dilaksanakan dengan terus-menerus. Ada jeda, ada waktu istirahat di beberapa titik sebelum sampai ke kampung halaman untuk berlebaran. Namun, ada degradasi tenaga yang sangat signifikan. Tenaga yang tersedia saat berangkat akan makin menurun seiring jauhnya memacu kendaraan.

Dalam kesempatan ini saya hanya mengusulkan kepada para pemudik, terutama yang akan pulang ke tempat yang jauh, seperti ke Surabaya, untuk berpikir ulang mudik dengan sepeda motor. Ada banyak keuntungan yang Anda dan keluarga peroleh. Selain bisa berlebaran dengan selamat, Anda dan keluarga juga tentu akan memiliki tenaga yang fit saat bertemu dengan keluarga di kampung halaman.

Barangkali alasan keefektifan dan ekonomis bisa diatasi dengan "manajemen mudik" yang baik yang Anda bisa siapkan mulai dari sekarang. Hitunglah biaya yang Anda dan keluarga keluarkan untuk ongkos pengiriman motor Anda dan biaya tiket untuk naik moda angkutan yang lain, seperti bus, kereta api, ataupun pesawat terbang. Setelah ada hasil hitung-hitungannya, Anda akan bisa menabung uang dari sekarang untuk pulang Lebaran 2011.

Saya yakin, kalau para pemudik mulai mempersiapkan diri dari sekarang untuk mudik Lebaran 2011 mendatang, jumlah yang meninggal sia-sia tentu akan jauh berkurang. Selain itu, kepuasan yang direnggut saat bertemu keluarga juga tentu sangat jauh lebih berasa karena suasana batin yang tidak terganggu oleh rasa capek dan penat selamat perjalanan.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan juga kementerian yang terkait, untuk mulai dari sekarang juga memikirkan penyediaan transportasi yang baik untuk Lebaran 2010. Pembenahan pelayanan angkutan massal perlu dilakukan agar lebih baik. Bagaimana caranya, pemerintah pasti sudah tahu, tinggal niat baik saja, mau apa tidak.

Mari kita menyambut Lebaran 2011 dengan penuh antusias.

8 September 2010

Buka Bersama

Ramadan sebentar lagi segera berakhir. Teman-teman yang menjalani ibadah puasa pasti memiliki pengalaman masing-masing. Ada yang dengan senang bisa melewati Ramadan dengan berpuasa penuh, alias tanpa bolong-bolong. Ada juga yang, entah karena beberapa halangan, tak bisa penuh menjalani ibadah puasa alias masih ada bolong-bolongnya. Hal ini tentu bisa dimaklumi dan yang terpenting tetap semangat. Kalau umur panjang Ramadan tahun depan menunggu Anda semua.

Sebagai orang yang tidak menjalani ibadah puasa, saya juga tentu memiliki kesan dan pengalaman selama menapaki sebulan penuh Ramadan ini. Pengalaman menyenangkan itu adalah detik-detik menjelang buka puasa.


Beruntung bisa bekerja di sebuah kantor yang tingkat solidaritas antar-penganut agama sangat tinggi. Suasana kekeluargaan selalu mewarnai hari-hari berada di kantor. Nilai menghargai sesama karyawan oleh para pemangku kepentingan diterapkan dengan melihat seseorang itu sebagai manusia ciptaan Tuhan bukan dari agama yang dia anut. Meskipun begitu, ada jugalah satu-dua yang "nyebelin" entah karena jabatannya sudah tinggi, gajinya sudah besar, dan sudah kaya raya, suka meremehkan sesama karyawan, terutama karyawan-karyawan rendahan. Tetapi, yang jelas, karakter itu tidak ada hubungannya dengan agama yang dianutnya. Saya melihatnya itu terjadi karena memang watak. Baguslah golongan orang itu hanya satu-dua, jadi kalah banyak dari golongan orang yang baik dan bersahabat.

Sudah menjadi kebiasaan di kantor saya setiap karyawan "berlomba-lomba" mengisi daftar menu yang akan disuguhi dan pada hari apa akan menyumbang untuk buka bersama sekantor. Biasanya awal-awal puasa adalah giliran meja tengah. Istilah "meja tengah" merujuk pada unsur pimpinan yang memang tempat duduknya berada di tengah ruangan redaksi. Jadi, pemred, wapemred, redpel, waredpel akan berada di urutan teratas dalam berbuat kebaikan menyumbang menu buka bersama ini.

Tim sekretariat redaksi memang cukup antisipatif dalam mengurus "manajemen buka bersama" ini. Daftar yang disediakan tentu sangat bermanfaat untuk menyuguhkan menu yang variatif bagi "kaum duafa", kemudian hari-hari yang kosong buka bersama bisa ketahuan.

Nah, setelah dari sore hari (biasanya mulai pukul 14.00) penyedia makanan buka bersama itu sibuk menata tempat dan segala sesuatunya. Biasanya kami sudah bisa mengintip menu apa saja yang akan segera nikmati. 10 menit sebelum bedug, hanya dengan sedikit teriakan provokatif dari seseorang, makanan untuk buka bersama itu pun diserbu oleh semua karyawan. Antreeeeeeee... Ada yang harus berlari-lari karena tempat duduknya berada di ujung ruangan supaya mendapat tempat antrean terdepan. Alhasil, dalam waktu 3 menit lokasi tempat makanan telah diramaikan dengan pemandangan orang yang antre. Tak ada bedanya dengan orang yang sedang antre sembako gratis. Asyiknya, saya yang bukan Muslim tak akan sungkan berada di barisan terdepan karena berada di depan merupakan "prestasi" he-he-he. Dan, dia boleh berbangga bisa sukses menjadi pengantre pertama.

Hari-hari selama Ramadhan tentu membuat karyawan tak perlu membeli makan malam dengan uang sendiri. Ada penghematan tentunya. Nah itulah nikmat Ramadan di kantorku. Tradisi buka bersama mempererat rasa kekeluargaan.

5 September 2010

Burung Gereja

pagi belum merekah betul
suara cit-citmu menambah hiruk pagiku
kau hinggap di jeruji pagar putih
meloncat ke bawah mematuk-matuk
tak jarang berjemur di pagar putihku
masih terus mencit-cit

tebersit hati ingin menangkapmu
tapi apakah kamu mau?
seperti biasa, kamu tak mau...
aku tahu karaktermu

agar kamu tahu, burung kecil
putri kecilku sering mengintipmu
berkali-kali ia memanggilmu
tapi seperti biasa... kamu tuli
kamu tak mengacuhkan dia
seperti ia tak sedang bicara denganmu.
"mari burung kecil, masuk ke rumahku"
begitu ia acap kali memanggilmu


entah karena ia masih kecil
lalu kamu tak peduli dengan dia?
entah karena tak mau berteman
lalu tak menggubris dia?
begitu putriku menganggapmu
wahai burung kecil...

karena cintaku kepada putriku
pernah kuingin memaksamu berteman dengan dia
tetapi kamu sama saja, seperti biasa
abai dan tak peduli juga dengan aku

entah karena aku tak hirau
lalu engkau pun tak hirau?
apa karena aku sering mengusikmu
mengusirmu dengan segala tingkah...
barangkali kamu marah seraya bersumpah-serapah?

engkau seakan mudah dirayu
engkau seperti gampang ditakluk
ternyata tidak sama sekali
engkau kepala batu
barangkali juga susah diatur...

tapi, putriku tahu
setiap pagi kamu pun datang kembali
setiap pagi dia mengintipmu lewat pintu
seperti biasa, sambil mengajakmu masuk....

bila kau pergi, pergilah
kuambil waktuku mengajari putriku
bahwa burung gereja takkan dendam
ia akan datang kembali
walau kemarin terusir dan terusik

bila kau pergi, pergilah
kuberitahu putriku bahwa burung gereja
tak mau dipaksa masuk ke rumah
burung gereja punya jalan sendiri
mereka dengan dunia sendiri
beda dengan duniamu putriku.

bila kau datang, datanglah
burung gereja bebas terbang
bebas mengarungi semesta.

(Senin dini hari, 6 September 2010)

Eksistensi

Sudah lebih dari dua tahun saya meninggalkan blog ini. Hiatussssss.... Begitu orang yang suka ngeblog menyebutnya alias seseorang dalam waktu yang lama tidak menulis di blog. Saya belum mengecek apakah teman-teman saya yang tertaut di halaman ini tetap eksis. Atau, mereka juga jangan-jangan sebagian bernasib sama dengan saya. Nanti saya akan ambil waktu untuk menghubungi mereka.


Kedatangan senarai jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter adalah alasan utama saya memilih menganggurkan blog ini. Betapa tidak, booming Facebook seperti menyihir semua orang. Tak pilih bulu. Anak yang masih bau kencur, remaja, hingga kakek pun sekarang sudah diterpa oleh demam laman ciptaan Mark Zuckerberg, seorang alumni Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini. Mereka memiliki akun di Facebook.

Semua hal hampir bisa dilakukan secara cepat di Facebook. Mulai dari berbagi apa yang sedang dialami kepada teman dengan begitu cepat (real time) hingga menautkan audio-visual di dinding serta saling bertukar informasi di antara sesama Facebooker, termasuk juga menulis seperti di blog ini.

Demikian juga Twitter. Jejaring sosial ini begitu dahsyat menggoda para blogger. Akhirnya, perhatian pun beralih. Blog ditinggal.....

Entah kenapa, beberapa hari ini, keinginan untuk menghidupkan blog ini muncul tiba-tiba. Ketika bertemu seorang teman baik, di suatu sore, saya sempat menjadikan blog sebagai topik obrolan. Saya rasa, inilah yang mendobrak keinginan itu. Apakah ini awal untuk terus menulis lagi. Saya pun tak bisa memberikan garansi. He-he-he.

Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang terus berkarya dalam dunia blog. Sebuah eksistensi (keberadaan) perlu dipertahankan, tetapi esensi tentu juga tak kalah penting. Semoga pertemanan yang dulu pernah terjalin bisa kembali bersemi dan biarlah rangkaian kata ini memberi makna kepada kita semua apalagi bukankah setiap kata hadir bersama maknanya?

22 Juli 2008

Hari Anak Nasional

Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keceriaan. Dua puluh empat jam sehari, kalau bisa, digunakan untuk bermain dan tidur. Pertumbuhan seseorang menjadi dewasa, mandiri, dan berguna bagi masyarakat bergantung pada polah pengasuhan saat masih anak-anak.

Namun, pada kenyataannya, ada banyak anak-anak yang hidupnya berkelana di jalan-jalan menjadi peminta-minta. Banyak yang kehilangan waktu bermainnya karena harus bekerja untuk sekadar menyambung hidup. Mengapa begitu? (Foto diambil dari internet. Tuhan menyayangi anak-anak.)


Bagi orangtua, pada umumnya, anak-anak menjadi prioritas utama. Mereka rela membanting tulang, bekerja siang dan malam hanya agar anak-anak bisa sekolah, bisa dibelikan mainan, bisa memberi mereka kesempatan belajar apa pun yang mereka inginkan.

Lalu, mengapa masih banyak anak-anak yang harus "melacurkan diri"? Ke mana orangtua mereka? Jawabannya pelik. Yang jelas tak ada satu pun orangtua yang mau bila anak-anaknya kelaparan, sakit, atau telantar. Namun, berbagai faktor, seperti kemiskinan, pemiskinan, dan tidak adanya kesempatan secara ekonomi, membuat keadaan yang tidak ideal itu terjadi.

Kemiskinan, jelas, adalah sesuatu yang tidak diinginkan. Orang menjadi miskin karena tidak memiliki mata pencarian yang tetap, tidak memiliki harta atau lahan yang bisa diolah. Menurut Bank Dunia, orang yang penghasilannya di bawah 2 dollar AS per hari adalah orang miskin. Pemerintah Indonesia (BPS) mendefinisikan, orang miskin adalah orang yang penghasilannya di bawah 1,55 dollar AS per hari.

Konon dengan standar Bank Dunia, penduduk miskin di Indonesia tahun 2007 mencapai 105,3 juta, atau 45,2% dari total populasi Indonesia, yakni sebanyak 232,9 juta jiwa.

Konstitusi kita, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 mengatakan, fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Akan tetapi, kita bisa lihat keadaan di sekitar kita bagaimana peranan negara bagi para fakir miskin dan anak-anak telantar ini. Bantuan langsung tunai (BLT) sejauh ini belum memberi pengaruh yang memadai. Uang Rp 300.000 yang dibagikan tentu tidak akan mengangkat status mereka.

Hari ini, tanggal 23 Juli 2008, adalah Hari Anak Nasional (HAN). Saatnya untuk bisa merefleksikan kondisi anak-anak Indonesia. Anak-anak adalah penerus generasi yang kelak akan melanjutkan "perjuangan" para orangtua. Fakta yang ada, anak-anak banyak yang telantar, banyak yang tertindas oleh otoritas orang dewasa, banyak yang dilecehkan baik secara fisik dan psikis, banyak yang diperjualbelikan.

Untuk itu, perlakuan semena-mena terhadap anak-anak harus dihentikan. Saya berharap kita orangtua/orang dewasa perlu memahami dan menjalankan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.