Langsung ke konten utama

Hari Anak Nasional

Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keceriaan. Dua puluh empat jam sehari, kalau bisa, digunakan untuk bermain dan tidur. Pertumbuhan seseorang menjadi dewasa, mandiri, dan berguna bagi masyarakat bergantung pada polah pengasuhan saat masih anak-anak.

Namun, pada kenyataannya, ada banyak anak-anak yang hidupnya berkelana di jalan-jalan menjadi peminta-minta. Banyak yang kehilangan waktu bermainnya karena harus bekerja untuk sekadar menyambung hidup. Mengapa begitu? (Foto diambil dari internet. Tuhan menyayangi anak-anak.)


Bagi orangtua, pada umumnya, anak-anak menjadi prioritas utama. Mereka rela membanting tulang, bekerja siang dan malam hanya agar anak-anak bisa sekolah, bisa dibelikan mainan, bisa memberi mereka kesempatan belajar apa pun yang mereka inginkan.

Lalu, mengapa masih banyak anak-anak yang harus "melacurkan diri"? Ke mana orangtua mereka? Jawabannya pelik. Yang jelas tak ada satu pun orangtua yang mau bila anak-anaknya kelaparan, sakit, atau telantar. Namun, berbagai faktor, seperti kemiskinan, pemiskinan, dan tidak adanya kesempatan secara ekonomi, membuat keadaan yang tidak ideal itu terjadi.

Kemiskinan, jelas, adalah sesuatu yang tidak diinginkan. Orang menjadi miskin karena tidak memiliki mata pencarian yang tetap, tidak memiliki harta atau lahan yang bisa diolah. Menurut Bank Dunia, orang yang penghasilannya di bawah 2 dollar AS per hari adalah orang miskin. Pemerintah Indonesia (BPS) mendefinisikan, orang miskin adalah orang yang penghasilannya di bawah 1,55 dollar AS per hari.

Konon dengan standar Bank Dunia, penduduk miskin di Indonesia tahun 2007 mencapai 105,3 juta, atau 45,2% dari total populasi Indonesia, yakni sebanyak 232,9 juta jiwa.

Konstitusi kita, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 34 mengatakan, fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Akan tetapi, kita bisa lihat keadaan di sekitar kita bagaimana peranan negara bagi para fakir miskin dan anak-anak telantar ini. Bantuan langsung tunai (BLT) sejauh ini belum memberi pengaruh yang memadai. Uang Rp 300.000 yang dibagikan tentu tidak akan mengangkat status mereka.

Hari ini, tanggal 23 Juli 2008, adalah Hari Anak Nasional (HAN). Saatnya untuk bisa merefleksikan kondisi anak-anak Indonesia. Anak-anak adalah penerus generasi yang kelak akan melanjutkan "perjuangan" para orangtua. Fakta yang ada, anak-anak banyak yang telantar, banyak yang tertindas oleh otoritas orang dewasa, banyak yang dilecehkan baik secara fisik dan psikis, banyak yang diperjualbelikan.

Untuk itu, perlakuan semena-mena terhadap anak-anak harus dihentikan. Saya berharap kita orangtua/orang dewasa perlu memahami dan menjalankan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Postingan populer dari blog ini

Pergantian atau Penggantian?

Apakah Anda termasuk salah seorang yang bingung dalam penggunaan kata ‘pergantian’ dan ‘penggantian’? Jangan sedih sebab Anda tidak sendiri. Masih banyak orang yang bingung memilih ‘pergantian’ atau ‘penggantian’. Saya juga termasuk dalam daftar orang yang bingung itu. Akan tetapi, itu saya alami dulu, sekarang sudah tidak bingung lagi. Bagaimana caranya agar kita tidak bingung dalam memakai kedua kata ini? Sepintas memang tidak ada perbedaan antara keduanya sehingga orang beranggapan kita manasuka dalam pemakaiannya. Anggapan itu agaknya salah. Kedua kata itu membawa maknanya masing-masing ketika berada di dalam kalimat. Perhatikan contoh ini, ‘penggantian’ kepala desa berlangsung ricuh . Hal yang perlu kita lakukan adalah melihat verba kata itu, yakni ‘mengganti’ atau ‘berganti’. Kita bisa mengetahui hal ini dengan membaca konteks berita atau peristiwa dengan mencari tahu alasan di balik lengsernya kepala desa tersebut. Bila sang kepala desa digantikan karena sesuatu masalah, padahal...

“Perajin” atau “Pengrajin”

Setelah kata Pergantian dan Penggantian yang membuat kita bingung, kita juga dibingungkan mana yang benar, 'perajin' atau 'pengrajin, 'perusak' atau 'pengrusak'? Pemakaian kata ini sangat bersaing di masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa sublema pengrajin yang diturunkan dari lema rajin bermakna perajin n 1 orang yg bersifat rajin: para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2 sesuatu yg mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sbg ~ pegawai; 3 orang yg pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan; Dari cara Pusat Bahasa menuliskan makna pengrajin yang sama artinya dengan perajin itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bentuk pengrajin sah-sah saja dipakai alih-alih perajin . Hal ini semakin membuat kita bingung dan timbul pertanyaan mengapa KBBI tidak tegas menentukan kata yang benar? Salah satu karakter KBBI adalah merekam semua kata yang ada dan ...

Inilah Kekeliruan dalam Berbahasa Indonesia (3)

Pedestrian Kata ini sering sekali menjadi perbincangan para pengguna bahasa Indonesia. Hal ini karena kata pedestrian sering dipakai secara keliru. Masyarakat taunya pedestrian itu bahu jalan untuk pejalan kaki, padahal arti sebenarnya adalah 'pejalan kaki'. Bila saja kita mau sedikit berusaha membuka kamus bahasa Indonesia, kesalahan seperti di bawah ini tidak akan terjadi. Pembangunan pedestrian di Surabaya kini mulai banyak yang rusak. Kerusakan ini lantaran tidak seluruhnya berkualitas baik dan sesuai dengan kontrak kerjanya dengan pemkot. ( Selengkapnya di sini ) Bangunan pedestrian di sejumlah jalan di Kota Surabaya mulai banyak yang rusak akibat kurangnya perawatan dari pihak pemerintah setempat. ( Selengkapnya di sini ) Jalur Lambat Jadi Pedestrian ( Selengkapnya di sini ) Dari papan proyek yang berdiri di sekitar taman, diketahui jika proyek pedestrian ini melibatkan beberapa instansi pemerintah seperti, Departemen Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Pertamanan Kota dan Dinas...