Langsung ke konten utama

Punishment

Bekerja di surat kabar harian yang high-speed, dalam arti dikejar-kejar deadline... (lagian kok mau-maunya dikejar-kejar...) punya cerita tersendiri. Bukanlah hal yang aneh bila bos yang jengkel marah-marah sambil bentak-bentak tatkala ada kata, istilah, dan hal lain soal kerjaan yang terlewat. "Ini kredibilitas koran".


Hari ini, Rabu (9/7), di kantorku mulai diberlakukan punishment terhadap kesalahan yang terjadi. Bentuk punishment itu belum jelas aturannya seperti apa. Namun, sudah pasti tujuannya adalah untuk memberi efek jera terhadap oknum yang berandil dalam membuat kesalahan yang dimaksud.

Pemberian punishment ini konon karena beberapa hari terakhir terjadi kesalahan "bertubi-tubi" dalam pemberitaan, mulai dari data hingga kesalahan teknis seperti kesalahan pencantuman kolom bersambung ke halaman sambungan untuk halaman satu.

Satu hal yang pasti, kesalahan seminimal mungkin hingga zero percent itu bermuara pada servis yang terbaik bagi pembaca. Pembaca adalah di atas segalanya. Pembaca berhak mendapat informasi yang benar. Tidak salah kalau surat kabar hidup karena pembacanya.

Cara ini--pemberian hukuman-- memang dirasa perlu. Kesalahan yang sama pada tulisan yang sampai di meja saya sebagai copy-editor (penyelaras/penyunting bahasa) pada kenyataannya terus berulang. Tidak hanya satu dua-tiga kali kesalahan itu terjadi, tetapi terus-menerus. Coretan dengan spidol merah menghiasi setiap cetakan berita pracetak yang akan terbit besok harinya.

Ada saja kesalahan yang terjadi. Mulai dari ejaan, tanda baca hingga penulisan nama narasumber yang salah, hari dan tanggal salah, nama tempat salah, salah jabatan. Okelah itu mungkin para penulis boleh lolos dalam ejaan dan tanda baca, tetapi kesalahan lainnya itu kalau salah terus-menerus akan dipertanyakan kredibilitas si penulis itu.

Salah penulisan nama narasumber, salah jabatan, dan sejumlah kesalahan menyangkut data akhinya kini menjadi bagian dari tanggung jawab saya untuk ikut memerhatikan, tetapi (sebenarnya) bukan sepenuhnya tugas utama. Kami "main" di seputar masalah kebahasaan. Nah, dengan begini maka pola kerja menjadi sedikit berubah, seperti yang tadinya waktu yang dipakai untuk memeriksa suatu naskah pendek dengan 10 menit, kini bisa sampai 30 menit karena harus mengecek kebenaran dari data yang ada di berita; mulai dari menelepon penulis atau editor desk, berselancar di mesin pencari di internet, hingga membuka database yang ada.

Jujur, dengan pola seperti ini, energi yang dibutuhkan akan lebih banyak. Bisa bayangkan dengan bekerja malam hari, tentu ada batas kemampuan dan ketika tiba pada titik di mana sudah tidak kuat lagi, sementara pekerjaan masih ada, kecenderungan terjadinya kesalahan itu besar.

Pertanyaannya adalah bagaimana agar kesalahan itu tidak terulang lagi? Saya ingat ketika saya bekerja di sebuah perusahaan garmen di KBN Jakarta Utara, beberapa tahun lalu. Perusahaan itu menggunakan slogan, "do the right thing the first time" artinya setiap karyawan di semua bagian, tanpa kecuali--mulai dari office boy hingga manajer-- harus melakukan pekerjaannya dengan benar sejak awal. Dengan begitu, maka suatu produk yang dihasilkan di setiap tahap proses yang ada akan dipastikan sudah benar.

Nah, kadang-kadang, bahkan sering sekali, di tempatku sekarang bekerja ini, tidak terjadi hal seperti itu. Ada kecenderungan suatu bagian melepas kesalahan itu terjadi di level dia dengan harapan level selanjutnya akan bisa membetulkan kesalahan itu.

Saya pikir, ini penyakit yang harus segera disembuhkan. Slogan melakukan dengan baik sejak awal ini saya usul agar bisa diterapkan di semua bagian. Dengan demikian, bos tidak perlu lagi marah-marah (padahal, dengan marah konon akan membuat umur lebih pendek kan :)), tidak perlu lagi mem-blame, si Anu geblek, bodoh, karena semua sudah on-the-track. Semua sudah benar dari hulunya.

Rencana punishment boleh-boleh saja, tetapi apa tidak lebih baik slogan do the right thing the first time itu diterapkan? Yakin deh, hasilnya pasti yahud....

Postingan populer dari blog ini

Pergantian atau Penggantian?

Apakah Anda termasuk salah seorang yang bingung dalam penggunaan kata ‘pergantian’ dan ‘penggantian’? Jangan sedih sebab Anda tidak sendiri. Masih banyak orang yang bingung memilih ‘pergantian’ atau ‘penggantian’. Saya juga termasuk dalam daftar orang yang bingung itu. Akan tetapi, itu saya alami dulu, sekarang sudah tidak bingung lagi. Bagaimana caranya agar kita tidak bingung dalam memakai kedua kata ini? Sepintas memang tidak ada perbedaan antara keduanya sehingga orang beranggapan kita manasuka dalam pemakaiannya. Anggapan itu agaknya salah. Kedua kata itu membawa maknanya masing-masing ketika berada di dalam kalimat. Perhatikan contoh ini, ‘penggantian’ kepala desa berlangsung ricuh . Hal yang perlu kita lakukan adalah melihat verba kata itu, yakni ‘mengganti’ atau ‘berganti’. Kita bisa mengetahui hal ini dengan membaca konteks berita atau peristiwa dengan mencari tahu alasan di balik lengsernya kepala desa tersebut. Bila sang kepala desa digantikan karena sesuatu masalah, padahal...

“Perajin” atau “Pengrajin”

Setelah kata Pergantian dan Penggantian yang membuat kita bingung, kita juga dibingungkan mana yang benar, 'perajin' atau 'pengrajin, 'perusak' atau 'pengrusak'? Pemakaian kata ini sangat bersaing di masyarakat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa sublema pengrajin yang diturunkan dari lema rajin bermakna perajin n 1 orang yg bersifat rajin: para ~ itu bekerja keras meningkatkan hasil kerjanya; 2 sesuatu yg mendorong untuk menjadi rajin: perusahaan memberikan hadiah lebaran satu bulan gaji sbg ~ pegawai; 3 orang yg pekerjaannya (profesinya) membuat barang kerajinan; Dari cara Pusat Bahasa menuliskan makna pengrajin yang sama artinya dengan perajin itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bentuk pengrajin sah-sah saja dipakai alih-alih perajin . Hal ini semakin membuat kita bingung dan timbul pertanyaan mengapa KBBI tidak tegas menentukan kata yang benar? Salah satu karakter KBBI adalah merekam semua kata yang ada dan ...

Inilah Kekeliruan dalam Berbahasa Indonesia (3)

Pedestrian Kata ini sering sekali menjadi perbincangan para pengguna bahasa Indonesia. Hal ini karena kata pedestrian sering dipakai secara keliru. Masyarakat taunya pedestrian itu bahu jalan untuk pejalan kaki, padahal arti sebenarnya adalah 'pejalan kaki'. Bila saja kita mau sedikit berusaha membuka kamus bahasa Indonesia, kesalahan seperti di bawah ini tidak akan terjadi. Pembangunan pedestrian di Surabaya kini mulai banyak yang rusak. Kerusakan ini lantaran tidak seluruhnya berkualitas baik dan sesuai dengan kontrak kerjanya dengan pemkot. ( Selengkapnya di sini ) Bangunan pedestrian di sejumlah jalan di Kota Surabaya mulai banyak yang rusak akibat kurangnya perawatan dari pihak pemerintah setempat. ( Selengkapnya di sini ) Jalur Lambat Jadi Pedestrian ( Selengkapnya di sini ) Dari papan proyek yang berdiri di sekitar taman, diketahui jika proyek pedestrian ini melibatkan beberapa instansi pemerintah seperti, Departemen Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Pertamanan Kota dan Dinas...