
Perhatikanlah papan penunjuk pada foto yang diambil di sebuah rumah sakit di Kuningan, Jawa Barat, pada 12 September 2010 itu. Tertulis "Ruang Obserpasi". :D
Apakah Anda juga tersenyum membaca tulisan itu? Yah, tapi tidak bagi pemangku kepentingan rumah sakit itu. Buktinya, mereka dengan sadar memasang papan itu tanpa terganggu rasa bahasanya. Setidaknya hingga tanggal pengambilan foto itu.
Kata "obserpasi" yang seharusnya ditulis "observasi" adalah salah satu contoh bagaimana kita mengapresiasi bahasa kita sendiri. Bagaimana kita bisa menguasai bahasa orang lain, sedangkan memakai bahasa kita sendiri masih amburadul. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita memiliki nasionalisme, bahasa sendiri tidak bisa kita pakai dengan benar dalam berkomunikasi sehari-hari. Ironinya, kekeliruan berbahasa ini justru terjadi pada kantor-kantor pemerintah, yang seharusnya lebih memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dibandingkan dengan masyarakat biasa karena langsung bersentuhan dengan urusan negara ini. Apa yang tertera di papan penunjuk itu barulah yang terlihat, bagaimana dengan yang tidak terlihat, seperti urusan administrasi lainnya?
Saya tak habis pikir mengapa instansi pemerintah itu menganggap sepele urusan penggunaan bahasa di lembaga mereka. Bukankah semua kebijakan, termasuk pemasangan papan penunjuk itu, harus sepengetahuan pengambil kebijakan di instansi itu? Ataukah memang pegawai dan jajaran pemimpin di lembaga itu tidak sempat mengecek kebenaran pemakaian kata "observasi" alih-alih "obserpasi"? Yang membuat saya miris lagi, tidakkah para dokter yang sudah pasti jago berbahasa merasa terganggu dengan kata "obserpasi" itu?

Saya mengusulkan kepada Pusat Bahasa untuk lebih menyosialkan penggunaan bahasa Indonesia terutama kepada instansi-instansi pemerintahan. Pusat Bahasa memiliki wewenang untuk memberikan "teguran", mulai dengan mengirimkan surat peringatan hingga teguran yang lebih keras, apalagi dengan sudah terbitnya undang-undang bahasa. Kalau Pusat Bahasa menutup mata dan tidak melakukan tindakan, kekeliruan-kekeliruan seperti ini akan terus kita saksikan.