Sudah lebih dari dua tahun saya meninggalkan blog ini. Hiatussssss.... Begitu orang yang suka ngeblog menyebutnya alias seseorang dalam waktu yang lama tidak menulis di blog. Saya belum mengecek apakah teman-teman saya yang tertaut di halaman ini tetap eksis. Atau, mereka juga jangan-jangan sebagian bernasib sama dengan saya. Nanti saya akan ambil waktu untuk menghubungi mereka.
Kedatangan senarai jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter adalah alasan utama saya memilih menganggurkan blog ini. Betapa tidak, booming Facebook seperti menyihir semua orang. Tak pilih bulu. Anak yang masih bau kencur, remaja, hingga kakek pun sekarang sudah diterpa oleh demam laman ciptaan Mark Zuckerberg, seorang alumni Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini. Mereka memiliki akun di Facebook.
Semua hal hampir bisa dilakukan secara cepat di Facebook. Mulai dari berbagi apa yang sedang dialami kepada teman dengan begitu cepat (real time) hingga menautkan audio-visual di dinding serta saling bertukar informasi di antara sesama Facebooker, termasuk juga menulis seperti di blog ini.
Demikian juga Twitter. Jejaring sosial ini begitu dahsyat menggoda para blogger. Akhirnya, perhatian pun beralih. Blog ditinggal.....
Entah kenapa, beberapa hari ini, keinginan untuk menghidupkan blog ini muncul tiba-tiba. Ketika bertemu seorang teman baik, di suatu sore, saya sempat menjadikan blog sebagai topik obrolan. Saya rasa, inilah yang mendobrak keinginan itu. Apakah ini awal untuk terus menulis lagi. Saya pun tak bisa memberikan garansi. He-he-he.
Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang terus berkarya dalam dunia blog. Sebuah eksistensi (keberadaan) perlu dipertahankan, tetapi esensi tentu juga tak kalah penting. Semoga pertemanan yang dulu pernah terjalin bisa kembali bersemi dan biarlah rangkaian kata ini memberi makna kepada kita semua apalagi bukankah setiap kata hadir bersama maknanya?
Kedatangan senarai jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter adalah alasan utama saya memilih menganggurkan blog ini. Betapa tidak, booming Facebook seperti menyihir semua orang. Tak pilih bulu. Anak yang masih bau kencur, remaja, hingga kakek pun sekarang sudah diterpa oleh demam laman ciptaan Mark Zuckerberg, seorang alumni Universitas Harvard, Amerika Serikat, ini. Mereka memiliki akun di Facebook.
Semua hal hampir bisa dilakukan secara cepat di Facebook. Mulai dari berbagi apa yang sedang dialami kepada teman dengan begitu cepat (real time) hingga menautkan audio-visual di dinding serta saling bertukar informasi di antara sesama Facebooker, termasuk juga menulis seperti di blog ini.
Demikian juga Twitter. Jejaring sosial ini begitu dahsyat menggoda para blogger. Akhirnya, perhatian pun beralih. Blog ditinggal.....
Entah kenapa, beberapa hari ini, keinginan untuk menghidupkan blog ini muncul tiba-tiba. Ketika bertemu seorang teman baik, di suatu sore, saya sempat menjadikan blog sebagai topik obrolan. Saya rasa, inilah yang mendobrak keinginan itu. Apakah ini awal untuk terus menulis lagi. Saya pun tak bisa memberikan garansi. He-he-he.
Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang terus berkarya dalam dunia blog. Sebuah eksistensi (keberadaan) perlu dipertahankan, tetapi esensi tentu juga tak kalah penting. Semoga pertemanan yang dulu pernah terjalin bisa kembali bersemi dan biarlah rangkaian kata ini memberi makna kepada kita semua apalagi bukankah setiap kata hadir bersama maknanya?