
Sebagai orang yang tidak menjalani ibadah puasa, saya juga tentu memiliki kesan dan pengalaman selama menapaki sebulan penuh Ramadan ini. Pengalaman menyenangkan itu adalah detik-detik menjelang buka puasa.
Beruntung bisa bekerja di sebuah kantor yang tingkat solidaritas antar-penganut agama sangat tinggi. Suasana kekeluargaan selalu mewarnai hari-hari berada di kantor. Nilai menghargai sesama karyawan oleh para pemangku kepentingan diterapkan dengan melihat seseorang itu sebagai manusia ciptaan Tuhan bukan dari agama yang dia anut. Meskipun begitu, ada jugalah satu-dua yang "nyebelin" entah karena jabatannya sudah tinggi, gajinya sudah besar, dan sudah kaya raya, suka meremehkan sesama karyawan, terutama karyawan-karyawan rendahan. Tetapi, yang jelas, karakter itu tidak ada hubungannya dengan agama yang dianutnya. Saya melihatnya itu terjadi karena memang watak. Baguslah golongan orang itu hanya satu-dua, jadi kalah banyak dari golongan orang yang baik dan bersahabat.
Sudah menjadi kebiasaan di kantor saya setiap karyawan "berlomba-lomba" mengisi daftar menu yang akan disuguhi dan pada hari apa akan menyumbang untuk buka bersama sekantor. Biasanya awal-awal puasa adalah giliran meja tengah. Istilah "meja tengah" merujuk pada unsur pimpinan yang memang tempat duduknya berada di tengah ruangan redaksi. Jadi, pemred, wapemred, redpel, waredpel akan berada di urutan teratas dalam berbuat kebaikan menyumbang menu buka bersama ini.
Tim sekretariat redaksi memang cukup antisipatif dalam mengurus "manajemen buka bersama" ini. Daftar yang disediakan tentu sangat bermanfaat untuk menyuguhkan menu yang variatif bagi "kaum duafa", kemudian hari-hari yang kosong buka bersama bisa ketahuan.
Nah, setelah dari sore hari (biasanya mulai pukul 14.00) penyedia makanan buka bersama itu sibuk menata tempat dan segala sesuatunya. Biasanya kami sudah bisa mengintip menu apa saja yang akan segera nikmati. 10 menit sebelum bedug, hanya dengan sedikit teriakan provokatif dari seseorang, makanan untuk buka bersama itu pun diserbu oleh semua karyawan. Antreeeeeeee... Ada yang harus berlari-lari karena tempat duduknya berada di ujung ruangan supaya mendapat tempat antrean terdepan. Alhasil, dalam waktu 3 menit lokasi tempat makanan telah diramaikan dengan pemandangan orang yang antre. Tak ada bedanya dengan orang yang sedang antre sembako gratis. Asyiknya, saya yang bukan Muslim tak akan sungkan berada di barisan terdepan karena berada di depan merupakan "prestasi" he-he-he. Dan, dia boleh berbangga bisa sukses menjadi pengantre pertama.
Hari-hari selama Ramadhan tentu membuat karyawan tak perlu membeli makan malam dengan uang sendiri. Ada penghematan tentunya. Nah itulah nikmat Ramadan di kantorku. Tradisi buka bersama mempererat rasa kekeluargaan.